Diskriminasi adalah keadaan dimana ada pembedaan pelayanan terhadap individu tertentu, dimana layanan itu di buat berdasarkan karakteristik yang ada pada individu tersebut. Diskrimininasi sering terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, disebabkan masyarakat cenderung membeda-bedakan individu-individu yang menurut mereka berbeda dari yang lain dan biasanya mereka menganggap bahwa perbedaan itu jelek. Ketika seseorang diperlakukan tidak adil karena karakteristik suku, antar golongan, ras, etnis, budaya, status ekonomi, status social, atau karakteristik lain yang menjadi dasar terjadinya diskriminasi.
Dari penjelasan diatas ada banyak karakteristik yang menjadikan seseorang didiskriminasi, namun dalam artikel ini akan membahas lebih jelas tentang dikriminasi terhadap status social (social stratification). Istilah stratifikasi atau stratification berasal dari kata “strata” atau “stratum” yang berarti lapisan. Oleh karena itu social stratification sering diartikan sebagai pelapisan dalam masyarakat.
Menurut Pitrim A. Sorokin, pelapisan masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarchis). Kemudian menurut Theodorson, dkk di dalam Dictionary of sociology mengemukakan lebih lengkap lagi yaitu: pelapisan masyarakat berarti jejang status dan peranan relatif permanen yang terdapat di dalam system social (dari kelompok kecil sampai ke masyarakat) di dalam hal pembedaan hak pengaruh dan kekuasaan.[i] Cara memperoleh kedudukan atau status adalah sebagai berikut :
1. Ascribed Status adalah keuddukan yang diperoleh secara otomatis tanpa usaha. Status ini sudah diperoleh sejak lahir.
Contoh: Jenis kelamin, gelar kebangsawanan, keturunan, dsb.
2. Achieved Status adalah kedudukan yang diperoleh seseorang dengan disengaja.
Contoh: kedudukan yang diperoleh melalui pendidikan guru, dokter, insinyur, gubernur, camat, ketua OSIS dsb.
3. Assigned Status merupakan kombinasi dari perolehan status secara otomatis dan status melalui usaha. Status ini diperolah melalui penghargaan atau pemberian dari pihak lain, atas jasa perjuangan sesuatu untuk kepentingan atau kebutuhan masyarakat.
Contoh: gelar kepahlawanan, gelar pelajar teladan, penganugerahan Kalpataru dsb.
Kadangkala seseorang/individu dalam masyarakat memiliki dua atau lebih status yang disandangnya secara bersamaan. Apabila status-status yang dimilikinya tersebut berlawanan akan terjadi benturan atau pertentangan. Hal itulah yang menyebabkan timbul apa yang dinamakan Konflik Status. Jadi akibat yang ditimbulkan dari status sosial seseorang adalah timbulnya konflik status.
Macam-macam Konflik Status:
a. Konflik Status bersifat Individual:
Konflik status yang dirasakan seseorang dalam batinnya sendiri.
Contoh:
· Seorang wanita harus memilih sebagai wanita karier atau ibu rumah tangga
· Seorang anak harus memilih meneruskan kuliah atau bekerja.
b. Konflik Status Antar Individu:
Konflik status yang terjadi antara individu yang satu dengan individu yang lain, karena status yang dimilikinya.
Contoh:
· Perebutan warisan antara dua anak dalam keluarga.
c. Konflik Status Antar Kelompok:
Konflik kedudukan atau status yang terjadi antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
Contoh: Peraturan yang dikeluarkan satu departemen bertentangan dengan peraturan departemen yang lain. DPU (Dinas Pekerjaan Umum) yang punya tanggung jawab terhadap jalan-jalan raya, kadang terjadi konflik dengan PLN (Perusahaan LIstrik Negara) yang melubangi jalan ketika membuat jaringan listrik baru. Pada waktu membuat jaringan baru tersebut, kadangkala pula berkonflik dengan TELKOM karena merusak jaringan telpon dan dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) karena membocorkan pipa air. Keempat Instansi tersebut akan saling berbenturan dalam melaksanakan statusnya masing-masing.[ii] Jadi, pelapisan social adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan jenjang status yang terdapat dalam lingkungan masyarakat. Biasanya dalam pelapisan social ini di bedakan berdasarkan status, jika seseorang mempunyai status atau jabatan yang tinggi maka orang itu di tempatkan dalam status social atas, sedangkan seseorang yang tidak mempunyai jabatan atau tidak mempunyai kekuasaan maka akan di tempatkan pada status social rendah. Contoh diskriminasi dalam status social adalah sebagai berikut:
ð Diskriminasi yang terjadi pada pelayanan kesehatan, saya pernah melihat di televisi ada seorang ibu-ibu dia menderita tumor di bangian lehernya dan benjolannya sudah membesar dan harus segera mendapatkan tindakan. Awalnya keluarga ibu-ibu itu membawanya ke rumah sakit yang ada di sekitar kotanya dengan menggunakan kartu jamkesmas, namun karena peralatan di rumah sakit tersebut kurang lengkap, akhirnya ibu-ibu itu di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan mempunyai peralatan yang jauh lebih lengkap. Kemudian keluarga membawa ibu-ibu itu ke rumah sakit tersebut, setelah sampai disana keluarga yang mengantar dan ibu-ibu itu disuruh mengantri, namun setelah pihak rumah sakit tau bahwa ibu-ibu itu kesana dengan bantuan jamkesmas, pihak rumah sakit langsung menolaknya dan ibu-ibu itu di suruh untuk pulang. Kemudian setelah beberapa hari di rumah setelah kejadian di rumah sakit tersebut ibu-ibu itu meninggal dunia. Dari pihak rumah sakit sendiri setelah di konfirmasi mereka memberi alsan bahwa pihak rumah sakit tidak ingin rugi karena tindakan yang harus di lakukan dan pengobatannya mengahbiskan dana besar dan pihak rumah sakit tidak mau mengambil resiko karena ibu-ibu itu memakai kartu jamkesmas.
ð Masih diskriminasi yang terjadi pada pelayanan kesehatan, yaitu di rumah sakit yang berada di kota besar. Diskriminasi yang terjadi di rumah sakit tersebut tidak hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja, namun mulai dari dokter hinggan petugas kebersihan, dan diskriminasi itu terjadi sejak pendaftaran pasien hingga pelaksanaan operasi. Di loket pendaftaran, pasien dengan jaminan kesehatan social akan di layani terakhir meski mereka datang lebih awal, karena jumlah loket bagi mereka hanya sedikit. Berbeda dengan pasien yang tanpa jaminan kesehatan social akan di layani terlebih dahulu. Kemudian saat meminta informasi layanan, pasien miskin sering di buat bingung oleh pihak rumah sakit. Informasi kesehatan tetang pasien sering berbeda dengan apa yang dikatakan oleh perawat dan dokter. Selain itu, pelayanan, tutur kata, dan sikap perawat, dokter, hingga petugas kebersihan lebih baik kepada pasien di kelas tinggi dari pada pasien yang biasa saja.
ð Pada masyarakat Bali, masyarakatnya dibagi dalam empat kasta, yakni Brahmana, Satria, Waisya dan Sudra. Ketiga kasta pertama disebut Triwangsa. Kasta keempat disebut Jaba. Sebagai tanda pengenalannya dapat kita temukan dari gelar seseorang. Gelar Ida Bagus dipakai oleh kasta Brahmana, gelar cokorda, Dewa, Ngakan dipakai oleh kasta Satria. Gelar Bagus, I Gusti dan Gusti dipakai oleh kasta Waisya, sedangkan gelar Pande, Khon, Pasek dipakai oleh kasta Sudra.
Dari contoh-contoh perlakukan diskriminasi diatas jelas bahwa status sociallah yang menjadikan adanya diskriminasi antar masyarakat. Pada contoh di atas, banyak perlakuan diskriminasi yang dialakukan oleh pihak permberi layanan kesehatan atau rumah sakit. Banyak rumah sakit yang membeda-bedakan pasiennya, antara pasien miskin dan pasien kelas atas. Meskipun pasien miskin tersebut mempunyai jamkesmas, kadang pihak rumah sakit menolaknya dengan alsan bahwa pihak rumah sakit tidak mau menanggung biaya yang membengkak di kemudian hari, intinya pihak rumah sakit tidak mau di rugikan.
Seharusnya perbedaan status social tidak harus di ikuti dengan diskriminasi. Karena kita hidup dalam masyarakat pasti dengan kemampuan dan keahlian yang berbeda-beda, hal ini secara otomatis membuat status menjadi berbeda, namun perbedaan ini tidak sepatutnya di iringi dengan diskriminasi, karena perbedaan itu indah.
[i] Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Yogyakarta : PT Rineka Cipta, 1991), C II, h.197