Selasa, 24 September 2013

analysis gender

Gender adalah istilah yang merujuk pada seperangkat karakteristik yang dipandang manusia sebagai hal-hal yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, dari hal-hal biologis seperti jenis kelamin,samapai peran social dan identitas gender.
       Dalam pengertian gender diatas dapat di pahami bahwa gender itu tidak terbatas pada perbedaan jenis kelamin, namun juga peran sosial dan identitas social. Pada penjelsan tersebut ada 3 ciri perbedaan yaitu: (1) perbedaan biologis, yang dimaksud perbedaan biologis adalah perbedaan yang melekat pada diri laki-laki maupun perempuan yang mna perbedaan tersebut melekat selamanya, dan fungsinya tidak dapat dipertukarkan, (2) perbedaan peran social, yang dimaksud perbedaan social adalah perbedaan yang sangat terlihat jelas dari segi pekerjaannya, misal jika dalam rumah tamgga prempuan berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi semua pekerjaan rumah tangga sedangkan sang suami berperan sebagai kepala rmah tangga yang bertanggung jawab dalam rumah tangga, (3) identitas gender adalah konsep individu tentang menjadi laki-laki atau perempuan yang berbeda dari jenis actual biologisnya.
       Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa gender dapat diartikan sebagai konsep sosial yang membedakan peran antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan itu tidak ditentukan karena antara keduanya terdapat perbedaan biologis atau kodrat, tapi dibedakan atau dipilah-pilah menurut kedudukan, fungsi dan peranan masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.
       Dari hasil observasi yang saya lakukan yaitu pada hubungan suami dan istri, telah terjadi ketidakadilan gender. Contohnya dalam kegiatan sehari-hari dari bangun sampai tidur lagi. Dari hasil observasi saya, waktu kerja istri lebih panjang dari pada waktu kerja suami,  mengapa bisa demikian? Karena pada observasi yang saya lakukan kegiatan atau pekerjaan istri di mulai sejak dia bangun tidur yaitu istri bngun tidur lebih dlu dari pada suami yaitu pukul 04.30, setelah bngun sholat subuh, kemudian stelah sholat menyiapkan srapan, bersih-bersih rumah, memandikan anak, menyiapkan perlengkapan anak sekolah, mengantar anak sekolah, menjemput anak sekolah, mnyiapkan mkan siang dan malam, sedangkan suami bangun setelah istri yaitu pukul 05.00 sholat subuh setelah itu mandi sarapan, berangkat kerja, dan setelah pulang kerja santai-santai di rumah.
       Dari hasil observasi di atas telah terlihat jelas ketidakadilan gender dalam hubungan suami istri, salah satunya yaitu suami tidak mau membantu pekerjaan istri di rumah, suami menganggap bahwa pekerjaan di rumah harus di kerjakan oleh si istri saja. Kemudian untuk waktu istirahat, dari observasi yang saya lakukan untuk wktu istirahat hasilnya lebih banyak waktu istirahat suami dari pada istrinya. Lalu untuk perbandingan jenis pekerjaan antara suami dan istri, istri lebih banyak melakukan pekerjaan dari pada si suami. Dalam hal ini secara tidak langsung si suami menempatkan diri sebagai atasan dan istri sebagai bawahan, dalam bentuk-bntuk ketidakadilan ini bisa di sebut sebagai “subordinasi”. Dan juga terdapat bentuk ketidakadilan lainnya yaitu “doble burden” yaitu beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak di banding jenis kelamin lainnya.
       Dalam observasi ini saya juga meneliti tentang seorang laki-laki dan perempuan yang manjalin hubungan special atau bisa disebut “pacaran”. Hasil observasi saya terhadap seorang laki-laki dan perempuan yang berpacaran, yaitu yang lebih dominan mengatur adalah si perempuannya. Dari pihak perempuan selalu menunutut pihak laki-laki untuk selalu sms dan telefon setiap saat, karena mereka menjalani hubungan jarak jauh atau bahasa gaulnya “long distance relationship” (LDR), dan apabila si laki-laki tidak sms atau telefon satu hari maka si perempuan itu akan marah, dan menghukum si laki-laki  dengan tidak menghubunginya selama 1 minggu dan juga si perempuan tidak mau mendengarkan alasan si laki-laki kanapa sampai tidaj sms atau telefon. Dan dari pihak laki-laki sendiri tidak memberlakukan apa-apa. Dari hasil observasi diatas jelas bahwa dalam hubungan relasi pacaran ini yang lebih mngatur adalah si perempuannya, dan jelas terlihat ketidakadilannya. Bentuk ketidakadilannya adalah subordinasi yaitu di mana pihak satu berlaku sebagai atasan dan yang satunya sebagai bawahan, karena dalam hubungan ini yang lebih dominan mengatur adalah pihak perempuan.

       Jadi bisa di simpulkan dalam masyakat kita msih menganggap bahwa pebedaan gender itu adalah perbedaan jenis kelmin saja. Bahkan mereka menganggap jika ada laki-laki yang mengerjakan pekerjaan perempuan itu dibilang dia takut sama istrinya, begitu juga sebaliknya jika ada perempuan yang mengerjakan pekerjaan perempuan masyarakat msih memndangnya sebelah mata.

ROFISA NURMALASARI (3221103020) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar